Perayaan yang dirangkaikan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk tersebut berlangsung di Gang Bima Sakti 3, Kelurahan Siantan Hulu, Kota Pontianak, Minggu (21/6/2026), dan dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat serta tokoh budaya.
Dalam kesempatan itu, Ria Norsan menyampaikan bahwa perjalanan 62 tahun Kesenian Kuda Kepang Maju Tresno menjadi bukti nyata ketekunan, kebersamaan, dan komitmen masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya agar tetap hidup dan berkembang di tanah Borneo.
Menurutnya, keberadaan kelompok seni budaya seperti Kuda Kepang Maju Tresno memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat hubungan antar masyarakat di tengah keberagaman Kalimantan Barat.
“Wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan yang mengandung nilai-nilai luhur kehidupan. Saya sangat mengapresiasi filosofi yang diangkat Kesenian Maju Tresno, Memayu Mayuni Mawana, yang mengingatkan kita bahwa menjaga dan merawat warisan budaya merupakan bagian dari upaya memperindah tatanan kehidupan,” ujar Ria Norsan.
Pada kegiatan tersebut, masyarakat disuguhkan pagelaran wayang kulit dengan lakon “Bardahe Lakopolo” yang dibawakan oleh Dalang Ki Saminggun Anggit Purwoko dari Kebumen, Jawa Tengah.
Gubernur menegaskan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen mendukung upaya pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah. Menurutnya, keberagaman suku, agama, dan budaya di Kalbar merupakan kekuatan besar yang harus terus dijaga bersama.
Ia menilai Paguyuban Jawa Kalimantan Barat telah memberikan kontribusi positif dalam memperkuat keharmonisan sosial dan membangun persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Selain pelestarian seni budaya, Norsan juga mengapresiasi berbagai kegiatan sosial yang turut digelar dalam rangkaian acara, seperti sunatan massal dan kirab budaya. Menurutnya, kegiatan tersebut mencerminkan nilai gotong royong serta kepedulian sosial yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Kita memiliki keberagaman yang menjadi kekuatan bersama. Jangan jadikan perbedaan sebagai pemisah, tetapi jadikan sebagai perekat persatuan dan kesatuan untuk membangun Kalimantan Barat yang lebih maju,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Jawa Kalimantan Barat, Purwanto, mengatakan Paguyuban Jawa telah berkembang di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat serta terus aktif menjalankan berbagai kegiatan pelestarian budaya.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Grebeg Syura yang dimulai sejak 20 Juni 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan nilai keberagaman di tengah masyarakat.
“Pelestarian budaya yang kita lakukan diharapkan menjadi perekat kebhinekaan dan menjaga nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa di Kalimantan Barat,” ungkap Purwanto.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Paguyuban Jawa Kalimantan Barat, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat, Ketua DPRD Kota Pontianak, Ketua Panitia HUT ke-62 Kesenian Kuda Kepang Maju Tresno, tokoh agama, tokoh masyarakat, sesepuh Paguyuban Jawa, serta masyarakat yang memadati lokasi acara.
Perayaan HUT ke-62 Kesenian Kuda Kepang Maju Tresno menjadi bukti bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga menjadi jembatan persatuan dan kekuatan sosial bagi masyarakat Kalimantan Barat. [SK]
