|

Gas Melon Langka dan Mahal, Warga Pemangkat Sambas Mengeluh Harga Tembus Rp50 Ribu

Gas elpiji 3 kilogram di Pemangkat dikeluhkan warga karena langka dan mahal. Harga di tingkat warung tembus hingga Rp50 per tabung, jauh di atas harga subsidi. SUARASEKADAU/SK

Pontianak (Suara Sekadau) - Kelangkaan gas elpiji subsidi 3 kilogram kembali dikeluhkan warga di Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas. Selain sulit didapat, harga gas melon di tingkat warung dan pengecer dilaporkan terus merangkak naik, bahkan menembus angka Rp40 hingga Rp50 per tabung, jauh di atas harga eceran yang seharusnya.

Arin, salah seorang warga Pemangkat, mengungkapkan bahwa dalam kondisi normal saja harga gas elpiji 3 kilogram di warung sudah berada di kisaran Rp30 hingga Rp33 per tabung. Ironisnya, dengan harga tersebut gas masih kerap tidak tersedia.

“Orang jual rata-rata di warung Rp30 sampai Rp33 kalau hari biasa, itu pun gas susah didapat,” ujar Arin, Selasa (13/1/2026).

Ia menjelaskan, keterbatasan distribusi gas elpiji di tingkat pangkalan sudah lama dirasakan masyarakat. Setiap kartu keluarga hanya diperbolehkan membeli satu tabung, dengan waktu pengadaan yang tidak menentu.

“Di pangkalan jual Rp20 satu kartu keluarga satu tabung, kadang seminggu baru ada, kadang dua minggu. Tidak tentu,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Arin, semakin memburuk ketika memasuki bulan-bulan tertentu seperti Januari dan Februari, terlebih menjelang perayaan hari besar keagamaan seperti Imlek dan Natal. Pada periode tersebut, gas elpiji semakin langka dan harga melonjak tajam di pasaran.

“Sekarang apalagi bulan Januari, Februari, mau Imlek mau Natal, gas pasti langka. Harganya bisa Rp40, ada yang Rp45, bahkan Rp50,” keluhnya.

Menurut Arin, kelangkaan gas elpiji 3 kilogram tidak hanya terjadi pada momen tertentu, melainkan hampir setiap hari. Bahkan di hari biasa pun, masyarakat kesulitan memperoleh gas dengan harga yang terjangkau.

“Jangan kan hari besar, hari biasa saja mahal. Orang sudah susah, malah ditambah susah lagi,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera turun tangan untuk menertibkan distribusi serta pengawasan harga gas elpiji subsidi agar benar-benar tepat sasaran dan dapat diakses oleh masyarakat kecil.

“Harapan saya cuma satu, tolong harga gas jangan dibikin susah masyarakat. Kalau mau jual di warung, mentok-mentok Rp25 saja. Samakan dengan Singkawang. Jangan harga dinaikkan semaunya,” pintanya.

Selain itu, Arin juga menyoroti dugaan praktik penyaluran gas dari tangan ke tangan serta kemungkinan penimbunan yang menyebabkan harga melambung tinggi di tingkat pengecer.

“Orang pangkalan jangan lempar sana sini. Jadi banyak tangan yang main, gas disembunyikan, dan akhirnya dijual mahal. Kami sudah capek tiap hari urusan gas mahal terus, padahal ini gas subsidi untuk masyarakat,” pungkasnya.

Keluhan warga ini diharapkan menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan instansi terkait agar distribusi gas elpiji subsidi di Kecamatan Pemangkat dapat berjalan lebih adil, transparan, dan berpihak pada masyarakat yang berhak. (SK)

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini