![]() |
| Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dalam pembukaan Rembuk Budaya APEKSI 2026 di Singkawang, Kamis (15/10/2026) malam.SUARASEKADAU/SK |
“Budaya itu identitas kota. Tantangannya sekarang bagaimana budaya tidak hanya kita simpan sebagai warisan, tetapi terus hidup, dikenal generasi muda dan bisa memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Edi, Jumat (16/10/2026).
Hal tersebut disampaikannya dalam rangkaian Rembuk Sektor Kebudayaan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 yang berlangsung di Kota Singkawang pada 14–18 Oktober 2026.
Forum tersebut mempertemukan kepala daerah dan delegasi dari berbagai kota di Indonesia untuk bertukar gagasan serta berbagi praktik baik dalam pelestarian dan pengembangan kebudayaan.
Menurut Edi, Pontianak memiliki potensi budaya yang besar untuk mendukung pembangunan daerah. Kekayaan tersebut mencakup Sungai Kapuas, sejarah Kesultanan Pontianak, keberagaman masyarakat, kuliner khas, seni tradisi, hingga berbagai agenda budaya yang terus berkembang.
“Kita juga punya kekayaan yang besar. Tinggal bagaimana ruangnya kita perkuat, pelaku budayanya kita libatkan, kemudian dikemas dengan baik tanpa menghilangkan nilai dan keasliannya,” katanya.
Ia menjelaskan, pembangunan kota dan pengembangan kebudayaan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Penataan ruang publik, kawasan tepian sungai atau waterfront, taman, serta fasilitas perkotaan dapat dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi seni dan budaya yang lebih dekat dengan masyarakat.
Upaya tersebut sejalan dengan arah pembangunan Pontianak untuk memperkuat karakter kota yang humanis. Selain menjaga identitas daerah, kebudayaan dinilai mampu menumbuhkan rasa memiliki terhadap kota serta mempererat hubungan masyarakat di tengah keberagaman.
Edi juga menilai Rembuk Budaya APEKSI menjadi kesempatan bagi pemerintah kota untuk saling belajar dan mengembangkan potensi masing-masing daerah. Menurutnya, setiap kota memiliki karakter dan keunggulan tersendiri sehingga praktik baik dari daerah lain dapat diadaptasi sesuai kebutuhan.
“Setiap kota punya keunggulan sendiri. Kita bisa belajar dari Singkawang, begitu pula kota lain bisa belajar dari Pontianak. Forum seperti ini penting supaya pembangunan kebudayaan tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Ia berharap forum tersebut menghasilkan kolaborasi nyata antarkota, seperti pertukaran pelaku seni, promosi budaya bersama, penyelenggaraan festival, hingga pengembangan ekonomi kreatif berbasis kebudayaan.
Menurut Edi, pengembangan budaya secara kreatif dapat membuka peluang ekonomi sekaligus memperkuat daya tarik kota. Namun, proses tersebut tetap harus memperhatikan nilai, keaslian, dan identitas budaya setempat.
“Kalau budaya kita rawat, masyarakatnya ikut bangga. Kalau kemudian dikembangkan dengan kreatif, budaya juga bisa menjadi kekuatan ekonomi dan daya tarik kota. Yang paling penting, generasi berikutnya tetap mengenal siapa mereka dan dari mana kotanya tumbuh,” pungkasnya. [SK]
.jpeg)