Sekadau (Suara Sekadau) – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, mulai memberikan dampak serius terhadap aktivitas perkebunan kelapa sawit. Sejumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) terpaksa menghentikan sementara penerimaan tandan buah segar (TBS) dari petani karena kapasitas penyimpanan crude palm oil (CPO) telah penuh.Ilustrasi – TBS di PKS/AI. SUARASEKADAU/SK
Kondisi tersebut dipicu terganggunya distribusi CPO dari hasil pengolahan TBS. Jalur pengiriman melalui Sungai Kapuas mengalami kendala akibat debit air yang terus menyusut selama musim kemarau.
Akibatnya, hampir seluruh PKS di Kabupaten Sekadau kini tidak lagi menerima TBS dari petani. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran karena buah sawit yang telah memasuki masa panen berisiko tidak terserap dan mengalami penurunan kualitas.
Sekretaris Aspek-Pir Kalbar, Prasetijo Hermawan, mengatakan terdapat sekitar delapan PKS di Sekadau yang rata-rata sudah berhenti menerima TBS dari petani.
“Di sini ada 8 PKS, rata-rata sudah tidak menerima TBS dari petani. Ini berlaku sejak lima hari lalu,” ujar Prasetijo, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, sejumlah perusahaan sebenarnya telah berupaya mencari jalur alternatif untuk mengeluarkan CPO dari tangki penyimpanan dengan memanfaatkan transportasi darat. Namun, langkah tersebut belum mampu mengatasi persoalan karena ketersediaan truk tangki pengangkut CPO di Kalimantan Barat sangat terbatas.
“Mereka (PKS) sedang berupaya mengirimkan CPO via truk tangki, tetapi kendalanya di Kalbar ini jumlah truk tangki tidak memadai. Sehingga semua pabrik berebutan untuk dapat truk tangki CPO,” katanya.
Keterbatasan armada membuat proses pengosongan tangki penyimpanan CPO berjalan lebih lambat. Selama kapasitas tangki masih penuh, ruang bagi PKS untuk menerima dan mengolah TBS baru menjadi sangat terbatas.
Kondisi tersebut kemudian berdampak langsung kepada petani. Sebagian petani bahkan terpaksa menunda panen karena tidak memiliki kepastian tempat penjualan TBS.
Prasetijo mengatakan buah sawit yang tidak segera dipanen dan diserap PKS berpotensi membusuk di pohon. Sementara itu, petani yang menjadi binaan atau mitra langsung PKS masih mendapatkan prioritas penyerapan meski dalam kondisi terbatas.
“Petani terpaksa membiarkan TBS kelapa sawitnya busuk di pohon. Sebab tidak ada PKS yang menerima. Kecuali sebagian petani binaan PKS sendiri,” ungkapnya.
Dampak serupa juga dirasakan koperasi perkebunan kelapa sawit. Di Kabupaten Sekadau terdapat lebih dari 20 koperasi yang menjadi wadah bagi para petani sawit.
Menurut Prasetijo, koperasi yang tidak memiliki hubungan kemitraan langsung dengan PKS menghadapi tekanan lebih besar karena tidak mendapatkan kepastian penyerapan TBS seperti koperasi yang menjadi mitra perusahaan.
Situasi ini diperkirakan belum akan segera berakhir apabila kondisi Sungai Kapuas tidak mengalami perbaikan. Bahkan, penghentian penerimaan TBS oleh PKS disebut berpotensi berlangsung hingga satu bulan.
“Jika kondisi Sungai Kapuas terus seperti ini, bisa jadi penutupan itu sampai satu bulan. Sebab untuk mengosongkan tangki penyimpanan CPO itu juga memakan waktu, terlebih armada untuk pengangkutan juga terbatas,” pungkasnya.
Persoalan tersebut menjadi perhatian serius bagi petani sawit karena TBS merupakan komoditas yang memiliki masa pengolahan relatif singkat setelah dipanen. Jika terlalu lama tidak terserap, kualitas buah akan menurun dan pada akhirnya dapat memengaruhi harga serta pendapatan petani.
Para petani berharap pemerintah bersama perusahaan perkebunan dan pelaku usaha terkait segera mencari solusi untuk mengatasi hambatan distribusi CPO. Salah satu kebutuhan mendesak adalah memastikan kelancaran pengangkutan CPO selama debit Sungai Kapuas masih rendah, sehingga PKS dapat kembali menerima TBS dan aktivitas panen petani tidak semakin terganggu. [SK]