|

Anak 13 Tahun Keluhkan Gatal Selama Tiga Bulan, Warga Nanga Gonis Resah Soal Air Sungai

Sari Santika dan Ibunya. SUARASEKADAU/SK
Sekadau (Suara Sekadau) – Keluhan gangguan kesehatan kembali disampaikan warga Nanga Gonis, Desa Merapi, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau. Seorang anak berusia 13 tahun, Sari Santika, mengaku mengalami gatal-gatal pada sejumlah bagian tubuh dan tangan selama sekitar tiga bulan terakhir.

Sari yang masih duduk di kelas II SMP menduga keluhan pada kulitnya berkaitan dengan kebiasaan mandi menggunakan air Sungai Nanga Gonis yang mengalir hingga ke Sungai Kapuas.

Dugaan tersebut muncul di tengah keresahan warga mengenai dugaan pencemaran aliran sungai yang disebut berkaitan dengan aktivitas pabrik kelapa sawit di kawasan tersebut.

“Sudah lama, sejak habis Lebaran Haji kena gatal-gatal akibat mandi di sungai,” ujar Sari saat ditemui, Selasa (1/9/2026).

Menurut Sari, rasa gatal hingga kini masih dirasakan. Bahkan, kulit pada sejumlah bagian tubuhnya disebut mengalami pengelupasan akibat kondisi tersebut.

Ibu Sari, Sadiah (44), mengatakan anaknya telah dibawa berobat secara mandiri. Namun, keluhan pada kulit tersebut belum kunjung sembuh.

Di sisi lain, Sari masih menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mandi. Kondisi tersebut membuat keluarga berada dalam situasi sulit karena belum memiliki alternatif sumber air lain yang memadai.

“Sudah kita bawa ke mantri, katanya kena gatal, tidak boleh makan telur dan mi. Tapi masih juga gatal-gatal,” kata Sadiah.

Sadiah berharap pemerintah dapat memberikan perhatian, baik terhadap kondisi kesehatan anaknya maupun persoalan kualitas air sungai yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.

Ia mengaku khawatir karena keluhan kesehatan terus dirasakan, sementara kebutuhan air sehari-hari masih bergantung pada sungai tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinkes PP & KB) Kabupaten Sekadau, Henry Alpius, mengatakan pihaknya belum menerima laporan terkait keluhan kesehatan warga Nanga Gonis tersebut.

“Belum ada laporan dari wilayah setempat. Kami lihat kasus yang ada di Puskesmas Simpang Empat belum ada peningkatan. Nanti saya cek ke Kapusnya sebagai Pj wilayahnya,” ujar Henry.

Sebelumnya, masyarakat Nanga Gonis, Desa Merapi, Kecamatan Sekadau Hilir, juga telah menyampaikan keresahan terkait dugaan pencemaran aliran Sungai Nanga Gonis.

Warga mengeluhkan adanya gangguan pada kulit setelah menggunakan air sungai. Selain itu, sejumlah ikan juga dilaporkan ditemukan mati di aliran sungai tersebut.

Pantauan Tim Suara Kalbar pada Selasa (1/9/2026) menunjukkan kondisi air Sungai Nanga Gonis tampak berwarna hitam. Di sejumlah bagian sungai, ditemukan ikan mati dan sebagian di antaranya telah membusuk.

Sungai Nanga Gonis diketahui mengalir hingga ke Sungai Kapuas. Di bagian hulu, ditemukan dugaan adanya pipa yang mengarah ke aliran sungai dan diduga berkaitan dengan pembuangan limbah dari aktivitas pabrik kelapa sawit.

Namun, dugaan pencemaran tersebut hingga kini masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan kualitas air dan uji laboratorium, serta penelusuran lebih lanjut oleh instansi yang berwenang.

Begitu pula dengan keluhan gatal yang dialami Sari. Hubungan langsung antara gangguan kesehatan tersebut dengan dugaan pencemaran air belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan medis dan kajian lingkungan.

Kondisi ini menjadi perhatian karena sungai masih menjadi salah satu sumber air yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Pemeriksaan kualitas air dan penanganan keluhan kesehatan warga diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai kondisi sebenarnya sekaligus mencegah risiko yang lebih luas bagi masyarakat di sekitar aliran sungai. [SK]

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini

 
Play