Pontianak (Suara Sekadau) – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus diperkuat PT Mayawana Persada di wilayah kerja Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.Karhutla Mengancam, PT Mayawana Persada Perkuat Pemadaman dan Pengelolaan Gambut. SUARASEKADAU/SK
Perusahaan mengerahkan tim gabungan untuk melakukan pemadaman, mengendalikan penyebaran api, serta mencegah kebakaran meluas ke kawasan lainnya di tengah ancaman musim kemarau dan fenomena iklim El Niño.
Direktur PT Mayawana Persada Iwan Budiman S.Hut mengatakan, penanganan Karhutla dilakukan dengan mengedepankan kecepatan respons dan prinsip melokalisasi kebakaran sedini mungkin.
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan penanganan kebakaran dilakukan secepat dan seefektif mungkin, sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap lingkungan dan masyarakat. Kami menyadari bahwa kejadian ini juga menjadi perhatian berbagai pihak. Karena itu, selain mengerahkan sumber daya untuk penanganan di lapangan, kami melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi kawasan dan langkah-langkah pengelolaan yang perlu diperkuat ke depan,” ujar Iwan, Rabu (26/8/2026).
Untuk memperkuat respons di lapangan, PT Mayawana Persada saat ini mengerahkan tujuh regu inti beserta regu pendukung dengan total 170 personel. Mereka ditempatkan di delapan posko pemadam yang tersebar di wilayah operasional perusahaan.
Kesiapan tersebut didukung berbagai sarana dan prasarana pemadaman sesuai standar P32, menara pantau, drone, pesawat nirawak VTOL, CCTV, serta 74 titik sumber air atau water point yang tersebar di empat sektor operasional.
Seluruh sumber air tersebut dipelihara secara rutin guna memastikan ketersediaannya ketika dibutuhkan dalam proses pemadaman.
Selain mengandalkan pemantauan teknologi, tim juga melakukan patroli secara intensif selama 24 jam, baik siang maupun malam. Setiap indikasi kebakaran ditindaklanjuti dengan pemadaman langsung dan pembuatan sekat bakar sesuai kondisi di lapangan.
Setelah api berhasil dikendalikan, petugas melanjutkan proses pendinginan dan pemantauan secara berkala untuk memastikan tidak ada bara maupun titik api yang kembali muncul.
Pengelolaan tata air gambut juga menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan Karhutla. Asisten Kepala (Askep) Environment PT Mayawana Persada Agus Trijoko menjelaskan, infrastruktur kanal yang berada di dalam konsesi tidak difungsikan untuk mengeringkan lahan, tetapi untuk menahan dan mengatur distribusi air.
“Menghadapi musim kemarau dan El Niño, seluruh pintu kanal ditutup rapat guna mempertahankan cadangan air di dalam bentang lahan. Secara teknis, perusahaan menjaga Tinggi Muka Air (TMA) rata-rata pada kisaran 40 sentimeter untuk memastikan lahan tetap lembap tanpa menggenangi perakaran tanaman,” jelas Agus.
Menurutnya, pengelolaan hidrologi tersebut dilakukan untuk menjaga kondisi lahan gambut tetap basah sehingga risiko kebakaran di bawah permukaan dapat ditekan.
Pemantauan tinggi muka air dilakukan secara real-time selama 24 jam melalui stasiun sensor telemetri otomatis atau level logger.
Tak hanya mengandalkan penanganan di dalam kawasan, PT Mayawana Persada juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman Karhutla.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR), perusahaan menyalurkan bantuan sarana dan prasarana pemadam kebakaran kepada Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Desa tersebut merupakan desa binaan mitra konservasi Yayasan Palung dan berada di bentang alam Hutan Lindung Sungai Paduan.
Bantuan diterima Kepala Desa Padu Banjar Kasdy, S.E., didampingi Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Banjar Lestari Samsidar serta perwakilan Yayasan Palung Hendri Gunawan.
Bantuan tersebut diharapkan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mempercepat respons apabila ditemukan potensi kebakaran di tingkat tapak.
Pemberian sarana pemadam juga menjadi bagian dari program kerja kolaboratif Working Group Landscape MATA PANDAWA. Perusahaan berharap peralatan tersebut dapat dirawat dan dimanfaatkan secara optimal bersama masyarakat untuk mendukung pencegahan serta penanganan Karhutla secara berkelanjutan.
Di sisi lain, upaya pemulihan ekosistem juga terus dilakukan melalui program rehabilitasi gambut yang mengacu pada Dokumen Pemulihan Gambut yang telah diverifikasi.
Asisten Sustainability PT Mayawana Persada Charia Salasari mengatakan, kegiatan revegetasi difokuskan pada spesies pohon endemik rawa gambut yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan dengan tingkat keasaman tinggi.
“Bibit dibudidayakan langsung di Revegetation Nursery internal di dalam kawasan hutan agar terbiasa dengan iklim setempat. Melalui pola tanam berjarak 5 x 5 meter dan evaluasi silvikultur berkala setiap enam bulan, tingkat keberhasilan tumbuh (survival rate) bibit revegetasi kami saat ini telah mencapai sekitar 80 persen,” terang Charia.
Komitmen perlindungan kawasan juga diwujudkan melalui pengusulan peningkatan alokasi kawasan konservasi dari sekitar 37.000 hektare menjadi 71.000 hektare dalam revisi Rencana Kerja Usaha (RKU).
Asisten Kepala (Askep) Sustainability PT Mayawana Persada Muharjan mengatakan, perluasan kawasan konservasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat perlindungan bentang alam di wilayah selatan konsesi dan mendukung kemitraan multi-pihak.
“Kawasan konservasi berkanopi rapat ini menjadi koridor jelajah yang aman bagi populasi orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik Kalimantan lainnya sekaligus memberi jaminan kelestarian ekologis bagi masyarakat sekitar,” pungkas Muharjan.
Melalui penguatan pemadaman, patroli, tata kelola hidrologi, pemberdayaan masyarakat, hingga pemulihan ekosistem, PT Mayawana Persada menyatakan terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah, aparat, mitra konservasi dan masyarakat dalam menghadapi ancaman Karhutla.
Upaya tersebut diarahkan tidak hanya untuk memadamkan api, tetapi juga mencegah kebakaran meluas sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem dan keselamatan masyarakat di sekitar kawasan operasional. [SK]