Singkawang (Suara Sekadau) – Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, menegaskan bahwa perayaan Gawe Dayak Naik Dango XXVI Kota Singkawang Tahun 2026 merupakan wujud rasa syukur masyarakat Dayak atas hasil panen sekaligus sarana melestarikan adat, budaya, dan tradisi leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Peresmian gerbang Rumah Adat Dayak pada event Gawe Dayak Naik Dango XXVI di Singkawang, Rabu (27/5/2026). SUARASEKADAU/SK
Kegiatan budaya tahunan tersebut berlangsung pada 27–31 Mei 2026 dan dipusatkan di Rumah Adat Dayak Kota Singkawang. Perayaan ini menjadi salah satu agenda budaya penting yang tidak hanya menampilkan kekayaan tradisi masyarakat Dayak, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Kota Singkawang.
“Gawe Dayak Naik Dango merupakan tradisi tahunan yang menjadi puncak dari rangkaian upacara adat Dayak. Naik Dango sendiri memiliki makna menaikkan persembahan ke atas dango atau lantai atas rumah betang sebagai simbol terima kasih kepada Sang Pencipta atas rezeki yang diberikan,” ujar Tjhai Chui Mie saat menghadiri pembukaan kegiatan, Rabu (27/5/2026) malam.
Menurutnya, Gawe Dayak tidak hanya menjadi milik masyarakat Dayak semata, tetapi telah menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan seluruh warga Singkawang. Nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman yang terkandung dalam tradisi tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat.
“Perayaan Gawe Dayak bukan hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga momentum untuk mempererat persaudaraan, menjaga keharmonisan antarsuku dan agama, serta memperkuat identitas budaya di Kota Singkawang yang dikenal dengan toleransinya,” katanya.
Beragam atraksi budaya turut memeriahkan perayaan tahun ini. Pengunjung disuguhkan penampilan tarian tradisional Dayak, alunan musik sape yang khas, pameran busana adat, hingga sajian kuliner tradisional yang mencerminkan kekayaan budaya Kalimantan Barat. Ragam pertunjukan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat maupun wisatawan yang hadir.
Pemerintah Kota Singkawang, lanjut Tjhai Chui Mie, berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya lokal melalui berbagai program dan kebijakan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui fasilitasi kegiatan adat, pelestarian rumah betang, serta penguatan komunitas adat agar tradisi warisan leluhur tetap lestari dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Mari bersama-sama menjaga nilai-nilai adat dan budaya sebagai kekayaan daerah yang menjadi kebanggaan bersama, menuju Singkawang yang harmonis, maju, dan berbudaya,” ajaknya.
Ia juga mengundang seluruh elemen masyarakat dari berbagai latar belakang suku dan agama untuk turut meramaikan serta menghormati perayaan Gawe Dayak Naik Dango. Menurutnya, semangat kebersamaan dalam menjaga budaya menjadi modal utama untuk terus membangun Singkawang sebagai kota yang toleran, damai, dan harmonis.
Perayaan Gawe Dayak Naik Dango XXVI tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga menjadi simbol kuat persatuan masyarakat multikultural di Kota Singkawang, yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat toleransi yang tinggi di Indonesia.[SK]