rumah korban yang diduga dibakar oleh orang tak dikenal. SUARASEKADAU/SK
Ketapang (Suara Sekadau) - Rentetan aksi pembakaran rumah tinggal dan pondok sawit kembali mengguncang Desa Air Upas, Kecamatan Air Upas, Kabupaten Ketapang. Peristiwa yang berulang sejak tahun 2025 itu hingga kini belum terungkap, menimbulkan keresahan mendalam dan rasa tidak aman di tengah masyarakat.
Kepala Desa Air Upas, Agus Purwanto, mengungkapkan bahwa sejak 2025 sedikitnya 18 kasus pembakaran dan penembakan terhadap warga telah terjadi, terutama di wilayah Dusun Petuakan dan sekitarnya. Namun, hingga kini sejumlah kasus tersebut masih belum berhasil diungkap oleh aparat penegak hukum.
“Sejak tahun 2025 sedikitnya 18 bangunan berupa pondok sawit dan rumah tinggal menjadi korban pembakaran, serta penembakan terhadap warga sekitar lima kasus. Hingga hari ini sebagian besar belum terungkap,” ujar Agus.
Memasuki tahun 2026, rangkaian teror tersebut kembali terjadi secara beruntun. Kejadian pertama tercatat pada 2 Januari 2026 malam, berupa pembakaran pondok sawit milik warga bernama Ali di Dusun Kalibambang (Ibul), tepatnya di jalur hauling Ibul–Air Durian.
Aksi serupa kembali terjadi pada 8 Januari 2026 sekitar pukul 19.00 WIB di Dusun Petuakan, Kampung/Dukuh Penampaan. Kali ini, pondok sawit milik warga bernama Bujung menjadi sasaran pembakaran oleh orang tidak dikenal.
Tidak berhenti di situ, pada 10 Januari 2026, pembakaran kembali terjadi di Dusun Petuakan. Sebuah rumah tinggal milik Komar, warga Sungai Dabu Estate (SDE) yang berada di kawasan Putih Arai Blok C, dilaporkan hangus dilalap api.
“Dalam kejadian tersebut, korban berada di dalam rumah dan sempat terjadi adu fisik dengan pelaku yang diduga membawa senjata angin. Korban mengalami luka tembak di tangan kiri, sementara pelaku melarikan diri. Rumah korban dilaporkan hangus terbakar. Pelaku diduga lebih dari satu orang, diperkirakan berjumlah tiga orang,” jelas Agus.
Ia menambahkan, rangkaian kejadian ini membuat warga hidup dalam kecemasan, khususnya para petani sawit dan karyawan perusahaan yang setiap hari beraktivitas di wilayah tersebut.
Pemerintah Desa Air Upas mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan waspada serta tidak melakukan tindakan main hakim sendiri. Agus juga meminta warga aktif memberikan informasi kepada aparat penegak hukum (APH), dengan jaminan identitas pelapor akan dilindungi.
“Kami berharap Polri dan TNI dapat meningkatkan pengamanan serta segera mengungkap dan menangkap pelaku agar situasi keamanan di Desa Air Upas kembali kondusif,” tegasnya.
Sementara itu, tokoh pemuda Air Upas, Andreas Candra, mendesak keseriusan aparat penegak hukum, khususnya Polsek Marau dan Polsub Air Upas, untuk segera menuntaskan kasus tersebut.
“Kami pemuda Air Upas mendesak pihak kepolisian agar segera mengungkap kasus ini. Jangan sampai berlarut-larut sehingga terkesan tidak serius, karena sudah sangat lama dan banyak korban. Secara psikologis, warga kini takut beraktivitas. Jika dibutuhkan, kami siap menjadi mitra kepolisian untuk membantu mengungkap kasus ini,” pungkasnya. (SK)