|

IDI Pontianak Ingatkan Kabut Asap Bukan Sekadar Masalah Lingkungan, Anak Paling Berisiko

Potret kondisi terkini Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) yang diselimuti kabut asap pada Jum’at (21/8/2026). SUARASEKADAU/SK
Pontianak (Suara Sekadau) – Kabut asap kembali menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat. Kondisi yang hampir setiap tahun terjadi tersebut dinilai tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan atau dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pontianak, dr. Rista Lestari, Sp.A., M.Sc., mengingatkan bahwa kabut asap merupakan ancaman serius terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak yang memiliki sistem pernapasan lebih rentan terhadap paparan udara tercemar.

Menurut dr. Rista, masyarakat Kalimantan Barat telah berulang kali menghadapi kondisi ketika langit tertutup asap, udara berbau menyengat, aktivitas sekolah terganggu hingga masyarakat harus membatasi kegiatan di luar rumah akibat memburuknya kualitas udara.

“Namun mungkin sudah waktunya kita mengubah cara pandang. Bahwa kabut asap bukan hanya persoalan lingkungan,” kata dr. Rista, Minggu (23/8/2026).

Ia menegaskan, kabut asap bukan sekadar persoalan kebakaran lahan atau keputusan untuk meliburkan sekolah. Di balik kondisi tersebut terdapat ancaman kesehatan yang terus mengintai, terutama bagi anak-anak yang setiap hari menghirup udara tercemar.

“Kabut asap adalah persoalan kesehatan anak. Setiap kali seorang anak menghirup udara yang tercemar, ada paparan polutan berbahaya yang sedang berlangsung,” ujarnya.

Menurutnya, berbagai langkah yang biasanya dilakukan ketika kualitas udara memburuk sejatinya berkaitan langsung dengan upaya melindungi paru-paru anak. Pembatasan aktivitas luar ruangan, memindahkan kegiatan olahraga ke dalam ruangan, menutup jendela rumah hingga memberikan perlindungan tambahan bagi anak dengan riwayat asma merupakan bagian dari upaya mengurangi paparan polutan.

“Pada akhirnya, semua itu adalah keputusan tentang seberapa besar paparan yang akan diterima paru mereka,” katanya.

Dr. Rista menuturkan, masyarakat memang tidak mungkin menghentikan anak-anak untuk bernapas. Namun, orang tua dan lingkungan sekitar dapat mengambil langkah untuk meminimalkan jumlah udara tercemar yang masuk ke dalam tubuh anak.

Ia juga mengingatkan orang tua agar tidak menunggu sampai muncul gejala berat. Anak-anak, terutama bayi dan balita, sering kali belum mampu mengungkapkan secara jelas ketidaknyamanan yang mereka rasakan akibat buruknya kualitas udara.

“Bayi tidak dapat mengeluh, balita mungkin hanya menjadi lebih rewel. Anak yang lebih besar mungkin hanya mengatakan, ‘Aku capek’, tanpa menyadari bahwa napasnya mulai bekerja lebih keras,” jelasnya.

Karena itu, orang tua diminta lebih peka terhadap perubahan kondisi anak selama kabut asap berlangsung. Perhatian tidak hanya perlu diberikan ketika anak mulai mengalami batuk, tetapi juga terhadap perubahan pola pernapasan, tingkat aktivitas, nafsu makan, kemampuan minum serta perubahan perilaku yang tidak biasa.

Menurut dr. Rista, langkah perlindungan terhadap anak juga tidak dapat hanya dibebankan kepada keluarga. Pemerintah dan seluruh pemangku kebijakan perlu mengambil langkah yang lebih serius dan berpihak pada kesehatan masyarakat ketika kualitas udara memburuk.

Ia berharap perlindungan terhadap kesehatan paru-paru anak menjadi salah satu prioritas utama dalam setiap kebijakan dan respons terhadap kabut asap.

Kabut asap mungkin berakhir ketika hujan turun dan kualitas udara kembali membaik. Namun, menurut dr. Rista, perhatian terhadap dampak kesehatan akibat paparan polusi tidak boleh ikut berhenti ketika langit kembali cerah.

Dokter spesialis anak yang juga merupakan Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kalimantan Barat itu menilai upaya menjaga kualitas udara merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan generasi mendatang.

“Kita sedang menjaga paru-paru yang akan mereka gunakan sepanjang hidupnya,” tutup dr. Rista. [SK]

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini

 
Play