| Tiim BPBD Melawi saat mendaki Bukit Matok untuk kembali memadamkan api. SUARASEKADAU/SK |
Di tengah medan perbukitan yang terjal, pepohonan mengering, dan kepulan asap, para petugas harus menembus kawasan terbakar untuk memastikan api benar-benar dapat dikendalikan. Upaya pemadaman bahkan terus dilakukan hingga malam hari.
Tim BPBD bersama personel Satgas Karhutla kembali mendaki kawasan bukit dalam kondisi minim penerangan. Mereka menyusuri medan sulit dijangkau untuk mencari titik api yang masih menyala maupun bara yang berpotensi kembali membesar.
Perjuangan tersebut berlanjut hingga pagi hari. Petugas melakukan penyisiran sekaligus pendinginan di sejumlah titik untuk memastikan bara api yang tersembunyi di balik semak, serasah, dan material kering tidak kembali memicu kebakaran.
Kebakaran di kawasan Bukit Matok diketahui mulai terjadi sejak 13 Agustus 2026 dan menjadi perhatian serius Satgas Karhutla Melawi. Meski sejumlah titik api berhasil dipadamkan, kondisi lahan yang kering masih menyimpan potensi munculnya api baru.
Terlebih, sebagian titik kebakaran berada di kawasan perbukitan dengan akses yang sulit dijangkau petugas.
“Yang menjadi perhatian kita adalah titik-titik yang tidak mudah dijangkau. Api bisa saja masih menyala di bawah semak atau menjadi bara, kemudian kembali membesar ketika kondisi angin dan cuaca mendukung,” demikian gambaran kondisi yang dihadapi tim di lapangan.
Kabid Kedaruratan Bencana dan Logistik BPBD Melawi, Rahmad Maulidin, yang turun langsung dalam operasi pemadaman mengatakan, upaya memadamkan kebakaran di kawasan Bukit Matok bukan pekerjaan mudah.
Petugas harus membawa peralatan pemadam menuju lokasi dengan berjalan kaki karena akses kendaraan menuju sejumlah titik terbakar sangat terbatas.
“Tim saat malam hari harus mendaki ke bukit sambil membawa pipa dan selang air,” ujar Rahmad.
Medan yang menanjak, udara panas, asap pekat, serta kondisi vegetasi yang kering membuat setiap langkah petugas menjadi perjuangan tersendiri.
Dari dokumentasi lapangan, petugas terlihat bekerja di tengah kawasan yang telah menghitam akibat terbakar. Selang pemadam dibentangkan menuju titik api, sementara petugas menyemprotkan air ke area yang masih mengeluarkan asap.
Gambaran dari udara juga memperlihatkan kepulan asap putih yang masih membubung dari kawasan perbukitan Bukit Matok. Kondisi ini menunjukkan ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir meski kobaran api di sejumlah lokasi telah berhasil dikendalikan.
Menurut Rahmad, pekerjaan tim di Bukit Matok bukan sekadar memadamkan kobaran api yang terlihat. Petugas juga harus melakukan penyisiran dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi yang dapat kembali menjadi sumber kebakaran.
“Inilah alasan mengapa pemantauan dan pemadaman harus terus dilakukan hingga malam, bahkan dilanjutkan pada pagi hari,” katanya.
Kondisi Bukit Matok yang merupakan kawasan perbukitan membuat akses menuju sejumlah lokasi kebakaran menjadi tantangan tersendiri bagi tim gabungan. Namun, risiko tersebut tetap dihadapi petugas demi mencegah api meluas dan mengancam kawasan di sekitarnya.
Kegigihan tim gabungan menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan karhutla di Melawi, terutama di tengah kondisi lahan kering dan medan yang menyulitkan proses pemadaman. [SK]