Pontianak (Suara Sekadau) – Polemik pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI di Kalimantan Barat yang sempat menjadi perhatian publik beberapa waktu lalu disebut masih meninggalkan dampak psikologis bagi para peserta, khususnya siswa dari SMAN 1 Sambas dan SMAN 1 Pontianak.
Plt. Kadisdikbud Kalbar, Syarif Faisal saat diwawancarai pada Selasa (19/05/2026). SUARASEKADAU/SK
Menanggapi hal tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat meminta peran aktif guru Bimbingan Konseling (BK) dan wali kelas di masing-masing sekolah untuk memberikan pendampingan mental kepada siswa.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Syarif Faisal, menilai persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat berdampak pada kondisi mental dan perkembangan psikologis peserta didik.
“Saya melihat kalau ini dibiarkan akan berdampak tidak baik terhadap perkembangan mental dan psikis anak-anak di SMA 1 Sambas maupun SMA 1 Pontianak. Karena itu, salah satu yang disarankan juga oleh Pak Abraham adalah penguatan psikis melalui guru BK dan guru wali di masing-masing sekolah,” ujarnya.
Menurut Faisal, penguatan mental sangat penting terutama bagi siswa SMAN 1 Sambas yang akan kembali mewakili Kalimantan Barat pada ajang LCC 4 Pilar MPR RI tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Agustus mendatang.
“Ini harus diperkuat kepada anak-anak ini, khususnya dalam rangka persiapan mereka pascakejadian ini dan untuk Sambas sendiri agar mempersiapkan diri menghadapi lomba tingkat nasional nanti,” tambahnya.
Ia berharap guru BK dan wali kelas dapat menjadi ruang aman bagi siswa untuk menyampaikan keluh kesah sekaligus memperoleh motivasi dan dukungan moral.
“Guru wali dan guru BK inilah yang nanti menjadi tempat curhat mereka, membimbing, mengingatkan, dan menguatkan kondisi mental mereka, termasuk juga kepala sekolah,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Faisal juga menegaskan bahwa polemik yang berkembang tidak boleh dimaknai sebagai konflik antarsekolah. Ia memastikan hubungan antara siswa maupun pihak sekolah tetap berjalan baik.
“Kita buktikan bahwa mereka sebenarnya tidak berselisih. Mereka hanya mencari kebenaran terkait apa yang mereka alami. SMA 1 Sambas juga mendapatkan dampak yang kurang baik karena menjadi sasaran kemarahan netizen terkait hasil lomba kemarin,” pungkasnya.[SK]