![]() |
| Dapur SPPG Ketapang Delta Pawan Sukaharja 1 yang sajikan menu tidak sesuai standar Gizi.SUARASEKADAU/SK |
Penghentian ini dipicu temuan adanya permen dan cokelat dalam paket makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat. Kandungan tersebut dinilai tidak memenuhi prinsip gizi seimbang yang menjadi standar dalam program MBG.
Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat, Agus Kurniawi, menegaskan bahwa langkah penghentian sementara merupakan bagian dari komitmen menjaga kualitas program.
“Dilakukan penutupan sementara operasional SPPG Ketapang Delta Pawan Sukaharja 1 sampai hasil pemeriksaan selesai dan dapur tersebut dinyatakan kembali memenuhi standar mutu gizi yang berlaku,” ujarnya, Senin (16/03/2026).
Keputusan ini tertuang dalam surat Badan Gizi Nasional bernomor 933/D.TWS/03/2026 tertanggal 14 Maret 2026. Penutupan dilakukan setelah adanya laporan dari Kepala SPPG pada 10 Maret 2026 terkait dugaan temuan menu yang tidak sesuai standar.
Hasil investigasi lapangan serta laporan Koordinator Regional Kalbar kemudian menguatkan adanya pelanggaran terhadap standar mutu gizi yang telah ditetapkan.
Agus menegaskan, setiap menu dalam program MBG wajib memenuhi ketentuan yang berlaku.
“Jika ditemukan ketidaksesuaian, maka akan dilakukan evaluasi dan penanganan segera,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Kabupaten Ketapang, Boby Nur Harliandi, menjelaskan bahwa permasalahan terjadi akibat kesalahan dalam proses distribusi. Permen yang ditemukan sebenarnya disiapkan sebagai reward, namun keliru dimasukkan ke dalam paket makanan utama.
“Kesalahannya adalah permen tersebut digabungkan ke dalam paket MBG untuk didistribusikan,” jelasnya.
Ia menambahkan, makanan dengan kandungan gula tinggi seperti permen tidak diperbolehkan dalam program MBG karena bertentangan dengan prinsip pemenuhan gizi seimbang.
Di sisi lain, Tokoh Pemuda Ketapang sekaligus praktisi hukum, Jakaria Irawan, SH, MH, menilai pengawasan terhadap program MBG harus diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.
Menurutnya, kualitas makanan untuk anak-anak tidak boleh dikompromikan, baik dari sisi kandungan gizi maupun kebersihan pengolahan. Ia juga menyoroti potensi ketidaktransparanan dalam penyusunan menu, termasuk kemungkinan markup harga.
“Jangan sampai dapur hanya menyajikan makanan asal jadi tanpa memperhatikan standar gizi dan kebersihan. Selain itu, perlu diwaspadai kemungkinan adanya markup harga menu,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat, khususnya guru dan wali murid, untuk turut aktif mengawasi pelaksanaan program MBG agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak.
Saat ini, tim Badan Gizi Nasional masih melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pasti temuan tersebut. Selama proses investigasi berlangsung, operasional dapur SPPG Ketapang Delta Pawan Sukaharja 1 tetap dihentikan hingga dinyatakan kembali memenuhi standar mutu gizi dan keamanan pangan.[SK].jpeg)