Pontianak (Suara Sekadau) – Penguatan peran keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam membentuk karakter serta ketahanan generasi muda. Hal tersebut menjadi salah satu poin utama dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Ketahanan Keluarga dan Lingkungan Pendidikan dalam Pencegahan LGBT di Kalangan Remaja” yang digelar di Aula Kantor Camat Pontianak Kota, Senin (3/8/2026).
Kegiatan FGD di Pontianak Menghasilkan Komitmen Bersama untuk Lindungi Generasi Muda dari Bahaya LGBT. SUARASEKADAU/SK
Kegiatan yang menjadi ruang dialog bersama tersebut diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai unsur, mulai dari mahasiswa lintas perguruan tinggi, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Karang Taruna Kota Pontianak, GMKI, HMI, tenaga pendidik, tokoh masyarakat, hingga berbagai elemen masyarakat lainnya.
FGD tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, di antaranya tokoh masyarakat, pendidik, psikiater, serta perwakilan Kementerian Agama Kota Pontianak. Pada akhir kegiatan, para peserta dan narasumber menandatangani komitmen bersama sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pembinaan dan pendampingan generasi muda.
Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak, Bebby Nailufa, mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, banyaknya peserta yang hadir menunjukkan adanya kepedulian bersama terhadap penguatan ketahanan keluarga dan pembinaan karakter remaja.
“Kita bersyukur FGD kali ini lebih ramai dengan jumlah sekitar 100 orang. Tentunya kita berharap ada dorongan dari semua pihak, terutama bagaimana memaksimalkan implementasi Perda Ketahanan Keluarga yang sebelumnya sudah ada,” ujarnya.
Bebby menjelaskan, berbagai masukan dan rekomendasi yang muncul dalam forum tersebut akan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dan DPRD dalam memperkuat kebijakan terkait ketahanan keluarga serta pembinaan generasi muda.
Ia menilai keluarga memiliki peran utama dalam membangun karakter anak, sementara sekolah dan guru juga memiliki tanggung jawab besar dalam mendampingi perkembangan peserta didik.
“Kita berharap orang tua dan guru tidak hanya sebagai pengajar yang menjalankan kurikulum, tetapi juga sebagai pendidik. Karena itu, peran orang tua, guru, dan kepedulian masyarakat harus terus diperkuat,” katanya.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung tumbuh kembang remaja.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Pontianak, Husin, mengatakan aspirasi yang disampaikan peserta FGD akan menjadi salah satu bahan masukan dalam penyusunan kebijakan ke depan. Ia menyebut terdapat rencana untuk mendorong pembahasan rancangan peraturan daerah sebagai inisiatif DPRD yang berkaitan dengan isu tersebut.
“Alhamdulillah, tanggapan masyarakat cukup baik. Kami ingin mendorong adanya perda inisiatif DPRD. Prosesnya tentu harus melalui mekanisme yang berlaku, mulai dari persetujuan anggota DPRD, kajian akademik, hingga sosialisasi kepada masyarakat,” jelasnya.
Husin menambahkan, apabila proses penyusunan regulasi tersebut dilanjutkan, pembahasannya akan melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi dan para ahli agar kebijakan yang dihasilkan dapat berjalan secara komprehensif dan tepat sasaran.
Ia juga berharap kegiatan diskusi serupa dapat terus dilakukan sebagai wadah edukasi serta membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pendampingan terhadap generasi muda.
Meski demikian, Husin menegaskan bahwa upaya pembinaan harus dilakukan dengan pendekatan edukatif dan pendampingan, bukan melalui tindakan diskriminatif maupun penghakiman terhadap individu.
“Kita tidak hanya mendorong lahirnya perda, tetapi juga mendorong perubahan perilaku melalui edukasi. Jangan sampai orang yang memiliki perilaku tersebut justru dihakimi atau dijauhkan dari masyarakat. Yang kita harapkan adalah adanya pembinaan dan edukasi sehingga mereka bisa mendapatkan pendampingan yang tepat,” pungkasnya. [SK]