Kegiatan ini melibatkan unsur Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, TNI, Polri, Manggala Agni, pemadam kebakaran swasta, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta berbagai pemangku kepentingan lainnya yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Dalam amanatnya, Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito mengapresiasi kesiapan seluruh unsur yang telah menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, kesiapan sejak dini menjadi kunci utama untuk mencegah terjadinya bencana yang lebih besar.
Ia mengingatkan bahwa perubahan iklim yang terjadi secara periodik dapat memicu kekeringan dan meningkatkan risiko kebakaran, sehingga seluruh pihak harus memastikan kesiapan personel, peralatan, perlengkapan, dan material pendukung lainnya.
“Secara periodik iklim juga berperan serta menyebabkan kekeringan sesuai dengan siklusnya. Untuk itu, kesiapan personel, peralatan, perlengkapan, dan material harus dipastikan sejak awal sebagai langkah preventif,” ujar Pangdam.
Mayjen Novi menegaskan bahwa dampak karhutla tidak hanya berupa kerusakan lingkungan, tetapi juga menimbulkan kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, transportasi, hingga perekonomian daerah.
Karena itu, ia menekankan bahwa penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja, melainkan membutuhkan kerja sama dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Keberhasilan penanggulangan karhutla tidak bisa dilakukan oleh satu institusi saja. Perlu kerja sama sinergis antara pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, pemadam swasta, perusahaan sebagai pemilik lahan, masyarakat, hingga tokoh masyarakat yang menjadi panutan di wilayahnya,” tegasnya.
Pangdam juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah dan menjadikan peristiwa kabut asap besar yang pernah melanda Kalimantan pada tahun 2019 sebagai pelajaran berharga. Menurutnya, penyuluhan dan pembinaan kepada masyarakat harus terus dilakukan agar kesadaran terhadap bahaya karhutla semakin meningkat.
“Kita sebagai aparat di wilayah Kalimantan Barat khususnya Kubu Raya harus memiliki kewaspadaan dan kesiapsiagaan maksimal. Laksanakan prosedur yang telah digariskan pimpinan untuk menghindari kerugian personel maupun materiel,” katanya.
Selain itu, ia meminta seluruh jajaran untuk terus mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat serta melakukan pemantauan titik panas (hotspot) secara dini agar setiap potensi kebakaran dapat segera ditangani sebelum meluas.
“Saya yakin dengan sinergi, disiplin, dan semangat kebersamaan seluruh komponen, kita mampu mencegah karhutla sehingga masyarakat Kalimantan Barat dapat beraktivitas dengan aman, sehat, dan produktif secara normal,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menyambut baik kehadiran Pangdam XII/Tanjungpura bersama jajaran TNI-Polri dan seluruh unsur terkait dalam apel siaga tersebut. Menurutnya, kehadiran para pemangku kepentingan menjadi bukti nyata keseriusan bersama dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
“Dan tentunya kehadiran beliau (Pangdam) bersama Danlanud dan Satbrimob serta yang lainnya akan menambah semangat. Dan hal ini merupakan wujud nyata keseriusan pemerintah bersama TNI dan Polri, bersama pihak swasta, damkar swasta, MPA, untuk melawan yang namanya kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Sujiwo menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menerapkan dua strategi utama dalam penanganan karhutla, yaitu langkah preventif melalui pencegahan dan langkah cepat penanggulangan ketika kebakaran terjadi.
Ia mengungkapkan bahwa wilayah Kubu Raya telah mengalami belasan hari tanpa hujan. Namun berkat koordinasi dan kerja sama seluruh unsur, enam titik kebakaran yang sempat muncul berhasil dikendalikan sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
“Alhamdulillah, sampai saat ini kita sudah belasan hari tidak hujan. Enam titik yang sekarang terjadi kebakaran semuanya Alhamdulillah dapat kita kendalikan,” katanya.
Bupati Kubu Raya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini aktif membantu pemerintah daerah dalam upaya penanggulangan karhutla, mulai dari TNI, Polri, Manggala Agni, hingga pemadam kebakaran swasta dan Masyarakat Peduli Api.
“Saya terima kasih sekali dengan kehadiran TNI dan Polri yang luar biasa hadir membantu kami, termasuk damkar-damkar swasta, MPA. Maka sekali lagi saya mengucap terima kasih kepada Panglima, Danlanud, TNI dan Polri yang bahu-membahu membantu kami dalam rangka menanggulangi serta mengatasi kebakaran hutan dan lahan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Sujiwo menegaskan bahwa dampak karhutla sangat luas karena menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Selain mengancam kesehatan akibat meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), kabut asap juga dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar hingga memperlambat aktivitas ekonomi karena terganggunya transportasi udara.
“Saya selalu sampaikan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan itu sangat serius. Bisa ke sektor kesehatan ketika sudah asap tebal, penyakit ISPA itu luar biasa, penyakit pernapasan. Belum lagi masalah pendidikan, kalau sudah asap tebal, sekolah-sekolah diliburkan. Ke sektor ekonomi, penerbangan terhenti, maka pergerakan ekonomi juga akan terhenti,” jelasnya.
Ia berharap kehadiran Pangdam XII/Tanjungpura di tengah para petugas dapat menjadi motivasi tambahan untuk memperkuat semangat kebersamaan dalam menjaga Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Kubu Raya, dari ancaman kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau tahun ini.
Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, TNI, Polri, dunia usaha, relawan, dan masyarakat, Kubu Raya optimistis mampu menekan risiko karhutla serta menjaga keselamatan masyarakat, lingkungan, dan keberlangsungan aktivitas ekonomi daerah. [SK]
