|

Kreasi Sungai Putat Bangun Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah, Ubah Sampah Jadi Sumber Ekonomi

Pekarangan Sempit Pontianak Utara Sulap Limbah Jadi Pangan Mandiri. SUARASEKADAU/SK
Pontianak (Suara Sekadau) – Pagi yang tenang menyelimuti Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara. Di balik deretan rumah sederhana, sebuah gerakan pemberdayaan masyarakat tumbuh dan berkembang melalui pemanfaatan pekarangan rumah yang sebelumnya kurang produktif menjadi pusat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga.

Di kawasan itulah Kelompok Kreasi Sungai Putat (KSP) mengembangkan sistem pertanian terpadu berbasis ekonomi sirkular yang menggabungkan budidaya maggot, ayam kampung, puyuh, lobster air tawar, serta aquaponik dalam satu siklus berkelanjutan tanpa limbah.

Ketua Kreasi Sungai Putat, Syamhudi, mengatakan program tersebut lahir dari keinginan membangun kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Mari bersama mewujudkan pekarangan produktif, keluarga sejahtera, masyarakat sehat, lingkungan lestari,” ujarnya.

Menurut Syamhudi, konsep yang dikembangkan cukup sederhana namun memiliki manfaat besar. Limbah dapur seperti sisa sayuran dan kulit buah dimanfaatkan sebagai pakan maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Maggot yang kaya protein kemudian digunakan sebagai pakan ternak ayam kampung, puyuh, maupun lobster air tawar.

Sementara itu, sisa hasil budidaya maggot dan kotoran ternak diolah kembali menjadi kasgot serta kompos organik yang digunakan untuk menyuburkan tanaman. Hasil panen sayuran kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga dan sebagian kembali menjadi pakan maggot sehingga tercipta siklus yang berkelanjutan dan minim limbah.

Ketua RW 004 Kelurahan Siantan Hilir, Ponijan, mengaku telah menyaksikan langsung perubahan yang terjadi di lingkungan warga sejak program tersebut berjalan.

Menurutnya, pekarangan yang sebelumnya hanya digunakan untuk aktivitas sehari-hari kini mampu memberikan nilai ekonomi sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

“Ini dimanfaatkan untuk masyarakat supaya lebih mengerti tentang kegiatan usaha. Mudah-mudahan dari pihak Pertamina nanti bisa membantu pengembangan kelompok usaha,” tuturnya.

Model pemberdayaan yang dikembangkan Kreasi Sungai Putat dinilai memiliki keunggulan karena tidak membutuhkan lahan luas maupun modal besar. Masyarakat cukup memanfaatkan ruang yang tersedia di sekitar rumah serta membiasakan diri memilah sampah organik untuk memulai budidaya.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Integrated Terminal Manager Pontianak, Adi Wahyu Christianto, menilai program ini memiliki potensi besar dalam menciptakan ketahanan pangan sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat.

“Kegiatan ini dapat terus berjalan. Ada potensi menciptakan bahan makanan sekaligus tambahan penghasilan,” katanya.

Ia bahkan melihat peluang pengembangan program ke wilayah lain sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.

“Pengembangan tidak hanya di budidaya maupun satu lokasi. Pengembangan seperti ini dapat dilakukan di beberapa titik,” tambahnya.

Lurah Siantan Hilir, Erin Febrianty, turut memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dilakukan warga melalui Kreasi Sungai Putat. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan upaya pembangunan berkelanjutan yang mengedepankan pengelolaan lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Di tengah meningkatnya volume sampah organik, fluktuasi harga pangan, dan semakin terbatasnya lahan produktif di kawasan perkotaan, sistem pertanian terpadu yang dikembangkan Kreasi Sungai Putat dinilai menjadi solusi yang relevan dan mudah diterapkan.

Budidaya maggot menjadi salah satu kunci utama dalam sistem tersebut. Selain mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan, maggot juga menghasilkan sumber protein alternatif yang murah dan bernilai ekonomi tinggi. Residu budidayanya berupa kasgot menjadi pupuk organik yang sangat bermanfaat bagi tanaman.

Keberadaan sistem aquaponik semakin melengkapi konsep pertanian terpadu tersebut. Melalui metode ini, tanaman dapat tumbuh dengan memanfaatkan nutrisi alami dari air kolam tanpa memerlukan penggunaan pupuk kimia secara berlebihan, sehingga menghasilkan produk pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan.

Selain memberikan manfaat ekonomi, program ini juga menjadi sarana pendidikan lingkungan bagi generasi muda. Anak-anak di lingkungan Siantan Hilir dapat belajar secara langsung mengenai pengelolaan sampah, budidaya pangan, hingga konsep ekonomi sirkular melalui aktivitas yang ada di sekitar mereka.

Lebih dari sekadar menghasilkan telur, sayuran, atau ternak, program Kreasi Sungai Putat telah menghadirkan perubahan pola pikir masyarakat bahwa pekarangan rumah dapat menjadi sumber pangan, sumber pendapatan, sekaligus solusi lingkungan.

Kisah dari Siantan Hilir membuktikan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas atau investasi besar. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah, mengelola sampah organik secara bijak, dan membangun semangat gotong royong, masyarakat mampu menciptakan sistem yang produktif, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi.

Dari sudut kecil Pontianak Utara, Kreasi Sungai Putat menghadirkan contoh nyata bagaimana perubahan besar dapat tumbuh dari langkah-langkah sederhana. Sebuah gerakan yang menunjukkan bahwa masa depan pangan dan lingkungan dapat dimulai dari halaman rumah sendiri. [SK]

Bagikan:
Komentar Anda

Berita Terkini

 
Play