![]() |
| Ritual Bakar Naga di Taman Pemakaman Yayasan Bhakti Suci, Jalan Adin Sucipto, Sungai Raya, Kubu Raya.SUARASEKADAU/SK |
Sekretaris Panitia Cap Go Meh 2026 Pontianak, Adi Sucipto, menjelaskan bahwa prosesi pembakaran naga merupakan tradisi sakral yang telah berlangsung turun-temurun dalam budaya masyarakat Tionghoa.
Menurutnya, sebelum dibakar, replika naga terlebih dahulu melalui ritual buka mata yang dipimpin oleh seorang suhu atau guru spiritual. Dalam ritual tersebut dipercaya bahwa roh naga diundang untuk mengisi replika yang kemudian diarak berkeliling kota sebagai simbol pembawa keberkahan serta energi positif bagi masyarakat.
“Ini secara keyakinan dan kepercayaan turun-temurun. Kemarin ada ritual naga buka mata, di mana yang bisa membuka mata itu suhu. Suhu mengundang roh dari atas untuk mengisi replika naga yang akan dimainkan. Setelah selesai tugasnya memberikan keberkahan dan energi positif, maka hari ini harus dikembalikan melalui ritual pembakaran naga,” ujar Adi.
Ia menambahkan, panitia menyediakan dua lokasi pembakaran naga untuk mengakomodasi seluruh kelompok yang ikut serta dalam perayaan Cap Go Meh tahun ini.
“Panitia menyiapkan dua tempat, yakni di Sungai Raya dan di Siantan. Khusus di Sungai Raya, sesuai laporan grup naga, sekitar 40 kelompok naga melakukan pembakaran di sini, sedangkan sisanya dilakukan di kawasan Siantan,” jelasnya.
Sementara itu, pendiri Naga Yuwen Athletic Association, Jensen Huang, turut menjelaskan filosofi di balik ritual tersebut. Ia mengatakan bahwa pembakaran naga melambangkan pengembalian roh yang sebelumnya diundang dalam rangkaian perayaan Imlek.
“Pembakaran naga adalah simbol mengembalikan roh yang sebelumnya kita undang saat perayaan Imlek hari ke-16. Setelah naga berkeliling kota untuk membersihkan energi negatif dan hal-hal yang tidak baik, maka roh tersebut harus kita kembalikan ke atas. Apa yang kita undang harus kita kembalikan,” tuturnya.
Ritual ini sekaligus menjadi penutup seluruh rangkaian perayaan Cap Go Meh 2026 di wilayah Pontianak dan Kubu Raya. Tradisi tersebut setiap tahunnya selalu menarik perhatian masyarakat serta menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Tionghoa di Kalimantan Barat.[SK]